Senin, 11 Maret 2013

PREVIEW CHASIS MB OH 1830

Mercedes Benz tahun 2011 ini mengumumkan akan melaunching dua varian chassis bigbus, yaitu OH-1830 dan OH-1626. Keduanya sudah dilengkapi perangkat yang oleh para penggemar bis Indonesia dijadikan parameter kenyamanan sebuah bis: built-in airsuspension.
Bagi penggemar bis dan komsumen pada umumnya, ini adalah kabar baik karena akan semakin banyak pilihan bis yang tersedia. Dan bagi MBIna ini adalah jawaban atas kebutuhan pasar yang cukup besar akan kebutuhan bis ber-airsuspension walaupun bisa dibilang terlambat.
Kenapa dibilang terlambat? Karena faktanya selama ini permintaaan pasar akan bis airsus sangat besar. Sampai-sampai PO berani melakukan modifikasi dengan mengeluarkan biaya Rp. 60-70 juta untuk mengganti chassis leafspring mereka menjadi airsus. Bahkan yang dimodifikasi bukan hanya chassis lama, tetapi juga chassis baru walaupun dengan konsekuansi hilangnya warranty. Hino maupun Mercedes Benz sama-sama menyatakan bahwa modifikasi pada struktur chassis, misalnya memotong bagian tengah lalu mengganti dengan spaceframe untuk mendapat bagasi yang luas, atau mengganti leafspring menjadi airsuspension, akan mengakibatkan hilangnya garansi.
Memang sekitar tahun 2004 MBIna sudah pernah mencoba menjual bis Airsus yaitu OH-1725 dan OH-1632. Namun entah kenapa (kabarnya karena kemahalan) penjualan kedua type chassis tersebut tidak dilanjutkan.
Apakah bis airsus yang masih bertahan jualan waktu itu (SCANIA & VOLVO) laku keras? Ternyata juga tidak. Populasi kedua merk tersebut tidak sampai 100 unit setelah berjualan di Indonesia selama kurang lebih 10 tahun. Berarti bisa disimpulkan bahwa pasar (operator bis) sebenarnya hanya membutuhkan bis airsuspension tapi yang harganya murah. Padahal umumnya bis-bis ber-airsuspension bawaan pabrik sudah dipaket menjadi satu dengan mesin yang powernya besar dan feature-feature lain yang memiliki teknologi tinggi sehingga membuat harga chassis menjadi mahal. Sementara itu tidak semua feature canggih dibutuhkan oleh perusahaan Otobis.
Akibatnya PO-PO yang membutuhkan bis airsus cukup memodifikasi “bis biasa” yang harganya lebih murah menjadi airsus. Sementara yang butuh power besar cukup memodif chassis lama dan mengganti dengan mesin China yg murah.
Tentu saja ada prinsip-prinsip tersendiri yang dipegang oleh ATPM di Indonesia sehingga tidak semata-mata begitu saja memenuhi permintaan operator. Buktinya Hino yg chassisnya paling banyak dimodif dengan airsus tidak kunjung mengeluarkan bis dengan builtin airsus. Mercedes-Benz yang chassisnya banyak “dicangkok” dengan mesin China juga tidak kunjung menjual chassis dengan power yang besar. Pertimbangan manufacturer mungkin tidak sesederhana kebutuhan operator. Bagi operator yang butuh mesin dengan power besar misalnya, cukup dengan mengganti mesin yg powernya besar. Tapi bagi manufacturer, power lebih besar berarti sistem pengereman harus lebih bagus (brake lining area lebih luas, ketebalan/lebar lining lebih besar), harus memakai retarder untuk mengimbangi power mesin, dan pertimbangan2 teknis lainnya yg lebih mendetail demi faktor safety. Dan tentunya juga pertimbangan bisnis, apakah bisa memberikan keuntungan yang memadai kepada pabrikan bis.
Bagaimana dengan tahun ini? Pasti MBIna punya pertimbangan sendiri sebelum meluncurkan OH-1830. Mungkin dianggap operator bis daya belinya sudah baik, atau mungkin dilihat para penumpang sudah banyak yang “melek bis” dan bisa memilih-milih bis yang bagus sehingga cukup memiliki kekuatan mempengaruhi PO untuk membeli bis bagus.
SPESIFIKASI OH-1830

Mesin OM926LA, 7200cc turbo intercooler
Mesin : OM926LA, 6 silinder segaris 7200cc turbo intercooler
Tenaga : 300hp@2200rpmTorsi: 1200nm@1400rpm
Standar Emisi : Euro 3
Transmisi : 6 speed manual
Gross Vehicle Weight : 18,5 ton
Sudah menjadi “tradisi”, Mercedes-Benz mempersenjatai bis-bisnya dengan mesin yang kecil tapi memiliki power dan torsi yang cukup besar. Tenaga dan torsi maksimal sudah bisa dicapai pada putaran yang rendah. Bahkan mesin OH-1830 masih lebih kecil dibanding mesin “rival” utama yaitu Hino yang dipasang pada RK8 (7864cc). Kapasitas kecil dan putaran rendah diharapkan bisa menghasilkan efisiensi bahan bakar yang tinggi. Putaran rendah juga berarti gesekan yang rendah sehingga lifetime / usia ekonomis komponen mesin bisa menjadi lebih lama.
CHASSIS OH-1830

Chassis OH-1830
OH-1830 memakai chassis modular. Menurut brosurnya disebutkan chassis ini terdiri dari front module dan rear module. Tapi jika diamati lebih mendetil, chassis OH-1830 setidaknya terdiri dari 5 bagian yaitu : driver compartement, front axle, baggage compartement, rear axle dan engine compartement. Kelima modul tersebut disambung dengan menggunakan baut. Sebelum diberi body, chassis OH-1830 panjangnya hanya sekitar 8.9 meter. Di karoseri bagian baggage compartement ditambah dengan tubular spaceframe sehingga panjangnya mencapai 12 meter. Untuk membawa ke karoseri chassis ini harus “digendong” dengan trailer, tidak bisa dikendarai langsung.
SUSPENSI OH-1830

Front suspension








Rear suspension
Suspensi depan OH-1830 menggunakan 2 airbellow (balon) dengan 4 telescopic shock absorbers. Suspensi belakang memakai 4 airbellow dengan 4 telescopic shock absobers. Model suspensinya mirip dengan suspensi SCANIA K-series atau suspensi rakitan Adiputro. Rem depan dan belakang sudah menggunakan discbrake serta dilengkapi dengan hydarulic retarder dan ABS. Bentuk kemudi OH-1830 mirip OH-1725, tetapi dashboardnya mirip OH-1525 dan 1725 (merk Pollak). Sedikit disayangkan sebetulnya, karena dashboard OH-1525 dan OH-1725 tidak memiliki display LCD sehingga tidak bisa menampilkan informasi sebanyak dashboard OH-1526, OH-1521 E3 atau OH-1518 E3. Seri ini bakal meramaikan pasar bis kelas premium yang selama ini hanya diisi oleh SCANIA K-series.
Wahyudi Irianto
BisMania Community
Catatan:
Pemuatan foto-foto chassis OH-1830 sudah mendapat ijin dari pihak yang berwenang dari MB yang mengundang menyaksikan chassis ini.
Read More

Roadtest MB-OH 1626 dan OH-1830 Pertama

Di awal tahun 2012 ini, dunia otomotif Indonesia, khususnya dunia perbisan tampak semakin menunjukkan geliatnya. Hal ini ditandai dengan makin inovatifnya sektor industri utama perakitan bus, seperti industri karoseri, industri komponen rekanan dan pendukung, industri jok, penyejuk udara, dan masih banyak lagi. Mereka pun beramai-ramai dalam bersaing dengan para kompetitornya. Tidak hanya sampai di situ, ATPM dan pabrikan perakitan chassis bus pun ikut menampakkan gairahnya.
Beberapa ATPM maupun dealer resmi juga tak mau kalah dalam berlomba-lomba mengeluarkan tipe atau varian chassis bus pada tahun ini. Adalah PT. Mercedes-Benz Indonesia (MBI), di penghujung tahun 2011 kemarin telah mengeluarkan dua tipe varian chassis bus terbaru, yakni MB-OH 1626 dan MB-OH 1830. Kedua produk ini merupakan generasi penerus dan diharapkan dapat meraih kesuksesan seperti prototipe yang telah dipasarkan sebelumnya.
Dari kiri ke kanan; MB-OH 1626 dan MB-OH 1830
Sebut saja PO. Nusantara, Perusahaan Otobus asal Kota Kretek ini adalah salah satu dari sekian perusahaan otobus yang kebetulan mendapatkan kesempatan untuk memiliki kedua unit varian chassis tersebut. Jumat kemarin (10/2), Handojo Budianto, selaku pemilik PO. Nusantara, menggelar acara bertajuk “Roadtest Perdana MB-OH 1626 dan MB-OH 1830 PO. Nusantara” bersama rekan-rekan APBNu3tara. Sekadar informasi, APBNu3tara adalah sekumpulan orang yang setia menjadi pengamat dan pemerhati berbagai informasi seputar PO. Nusantara. Mereka-lah yang setia menantikan setiap informasi, inovasi, serta gebrakan yang dikeluarkan oleh PO. Nusantara. Dan, kali ini, mereka-lah yang mendapatkan kesempatan khusus untuk menjajal armada terbaru ini ketika jalan perdana.
Kedua chassis ini menjadi sangat istimewa bagi PO. Nusantara, karena PO inilah yang memperkenalkan unitnya kepada khalayak umum untuk pertama kalinya. Andy Darmawan, salah seorang staf ahli PO. Nusantara pun menambahkan “Kami mendatangkan chassis ini bertujuan untuk memanjakan para penumpang, karena kenyamanan penumpang selama dalam perjalanan adalah tujuan utama kami. Sejak dahulu, bus Mercy telah dikenal berkat kenyamanannya“, ujarnya bersemangat.
Dari kiri ke kanan; MB-OH 1830 dan MB-OH 1626
MB-OH 1626 dan MB-OH 1830 adalah dua tipe bus-chassis keluaran MBI yang telah dilengkapi dengan Air Suspension. Suspensi udara yang ada pada kedua tipe chassis ini merupakan suspensi udara asli (built-up) dari pabrikan, bukan seperti suspensi udara pada tipe-tipe chassis sebelumnya, yang menggunakan leaf-spring (atau lebih dikenal dengan suspensi daun), atau bahkan suspensi udara namun hasil rombakan atau rubahan dari pihak karoseri. Tentu saja, inovasi ini kian menunjang kenyamanan berkendara selama dalam perjalanan.
MB-OH 1626 sendiri dirilis secara resmi pada bulan Oktober tahun 2011 dengan nama kode chassis MB OH-1626 LM. Mesin: OM-906LA, 6374cc 6 silinder segaris turbo intercooler. Transmisi: G85-6 manual speed. Torsi: 950nm @ 1200-1600rpm. Tenaga: 260hp @ 2200rpm. Gross Vehicle Weight: 16 ton. Standar Emisi: Euro 3. Tipe chassis: Modular-type chassis. Equipped with built-up air suspension (front: 2 air bellow, 2 shock absorbers, rear: 4 air bellow, 2 shock absorbers).
Untuk MB-OH 1830, spesifikasi mesin sebagai berikut. Mesin: OM926LA, 6 silinder segaris 7200cc turbo intercooler. Transmisi: 6 manual speed. Torsi: 1200nm @ 1400rpm. Tenaga: 300hp @ 2200rpm. Gross Vehicle Weight: 18,5 ton. Standar Emisi: Euro 3. Tipe chassis : Modular-type chassis. Equipped with built-up air suspension (front: 2 air bellow with 4 telescopic shock absorbers, rear: 4 air bellow with 4 telescopic shock absobers).
Dapur Pacu MB-OH 1830
Modular-type chassis sendiri adalah chassis yg terdiri dari dua bagian chassis, yakni front module (bagian depan) dan rear module (bagian belakang). Front module terdiri atas driver compartement, front axle, dan baggage compartement. Sedangkan rear module terdiri atas rear axle dan engine compartement.
Lalu bagaimanakah soal performa dan kenyamanannya saat di jalan? Acara roadtest kemarin telah menjawab semuanya. Rute roadtest kemarin mengambil start dari Pool PO. Nusantara, Karanganyar, Demak menuju Jakarta Kota. Sekitar pukul 17.00 WIB, rekan-rekan APBNu3tara sudah berkumpul di pool. Peserta berasal dari berbagai kota, seperti Malang, Pati, Kudus, Jepara, Demak, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Mereka sangat antusias dan menyambut gembira acara ini. Setelah semua peserta berkumpul, tak lama kemudian masing-masing bus, OH-1626 dan OH-1830 yang telah disiapkan, diparkir di pool belakang untuk diadakan sesi foto bersama bersama para peserta roadtest. Setelah diadakan pembagian tempat duduk dan briefing singkat, kira-kira pukul 19.30 WIB, rekan-rekan APBNu3tara diberangkatkan menuju kota tujuan.
Suasana di dalam kabin bus saat roadtest sedang berlangsung
Peserta yang mengikuti acara ini sebanyak 40 orang. Mekanisme pembagian tempat duduk adalah dengan cara duduk di dalam bis yang berbeda secara bergantian. Total peserta dibagi menjadi dua, sebagian menjadi penumpang OH-1626 dan sisanya menjadi penumpang OH-1830. Hal ini bertujuan agar semuanya bisa saling merasakan satu sama lain dan bisa saling bertukar informasi, berdiskusi sambil membandingkan performa dan kenyamanan kedua unit bus tersebut.
Sebagai giliran pertama, saya bersama rekan saya, sdr. Gentur mendapat kesempatan untuk menjajal bus OH-1830 terlebih dahulu hingga separuh perjalanan menuju RM. Sari Rasa, Kendal. “Sengaja kami pilih duduk di bagian paling belakang agar dapat merasakan goncangan bus Mercedes-Benz seri ini” ujar Gentur antusias. Kebetulan rute yang akan dilalui memang sedang mengalami banyak perbaikan di beberapa titik, seperti wilayah Demak dan Kaliwungu, Kendal.
Selama perjalanan berlangsung, hal pertama yang kami rasakan adalah kenyamanan yang tiada duanya. Baik OH-1626 maupun OH-1830, memiliki tingkat kenyamanan yang baik selama dalam perjalanan. Hal ini asumsikan dengan kondisi jalanan Pantura yang relatif tidak stabil dan berlubang-lubang. Suspensi udara built-up yang ditanamkan pada kedua varian tipe mesin ini bekerja sangat baik, terumata dalam hal meredam goncangan selama dalam perjalanan. Bahkan, ketika melaju dalam kecepatan tinggi pun, suspensi masih bisa bekerja sangat baik. Body bus juga tidak limbung ketika jalan pada kecepatan tinggi. Hal ini sempat menjadi wacana dan kekhawatiran tersendiri karena untuk tipe OH-1830, tinggi lantai bus dinaikkan sebanyak 20cm, karena pengaruh dari rancang-bangun chassis itu sendiri.
Ketika memasuki Kota Semarang, sengaja diputuskan untuk tidak melewati jalan dalam kota, melainkan akses langsung melalui tol. Mengingat kondisi topografi jalan tol yang relatif menanjak sehingga sangat tepat digunakan untuk menjajal performa mesin dalam kondisi jalan menanjak. Hasilnya, baik OH-1626 dan OH-1830 sangat mumpuni di medan tanjakan. Memasuki daerah Gringsing, Kab. Batang, yang terkenal dengan Tanjakan Plelen-nya, pun dapat dilalui dengan mulus tanpa hambatan.
Bus dengan spesifikasi suspensi udara ini saya rasakan cukup nyaman ketika melaju di atas jalanan yang rusak, walau saya duduk di bagian paling belakang sekalipun. Begitu saya berpindah tempat duduk ke tengah dan ke depan, kemampuan suspensi dalam meredam goncangan ternyata terasa lebih baik. Dari segi faktor keamanan, bus ini sudah mengadopsi teknologi rem cakram (disc brake) di keempat titik rodanya, masih ditambah dengan bantuan retarder dengan letak tuas berada di dekat lingkar stir kemudi. Namun sayangnya, saat ingin merasakan kemampuan pengereman dengan retarder, ternyata retarder sedang bermasalah (belum dapat difungsikan), sehingga saya belum bisa mengetahui sejauh apa kemampuan pengereman dengan bantuan retarder. Tetapi, dalam modus pengereman standar (non-retarded brake), hanya mengandalkan cakram di keempat titik rodanya, saya merasakan daya cengkeraman pengereman yang kuat namun tetap “lembut” untuk menahan laju bus berdaya-kuda 300 HP ini.
Para peserta roadtest berfoto bersama di depan bus
Sebagai perbandingan, Mercedes-Benz seri OH-1830 ini, jika dibandingkan dengan SCANIA K-310 atau K-380 sebagai sesama kompetitor di kelas premium-engine, ternyata berada dalam posisi saling mengisi. Satu sama lain saling memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tenaga yang dihasilkan oleh mesin SCANIA lebih terasa responsif dibandingkan dengan OH-1830. Menurut saya, hal ini sangat wajar karena SCANIA memiliki kapasitas mesin sebesar 12.000 cc, sangat jauh apabila dibandingkan dengan Mercedes-Benz OH-1830 yang hanya memiliki kapasitas 7.200 cc. Ditinjau dari segi estetika instrumen panel (speedometer, dan lain-lain) yang terletak di dashboard, milik SCANIA juga lebih terlihat canggih dan futuristik, jika dibandingkan dengan panel yang milik Mercedes-Benz OH-1830 yang terlihat lebih sederhana. Perbedaan yang paling mencolok, pada SCANIA terdapat tombol adjuster untuk menaikkan ataupun menurunkan suspensi udara, sedangkan pada Mercedes-Benz OH-1830 fasilitas ini tidak ada.
Berbeda dengan suspensi, suspensi pada Mercedes-Benz OH-1830 terasa lebih empuk (soft) daripada SCANIA. Hal ini bisa disebabkan karena balon (air-bellow) yang diadopsi oleh Mercedes-Benz memiliki diameter yang lebih besar, dan tentu saja hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor lain, yakni perbedaan pada struktur rancang-bangun pada chassis-nya.
Sekitar pukul 22.00 WIB, kami tiba di RM. Sari Rasa, Kendal. Setelah puas dengan goyangan suspensi Mercerdes-Benz OH-1830, kami istirahat sejenak untuk santap malam bersama rekan-rekan. Kemudian, saya berpindah ke bus Mercedes-Benz seri OH-1626. Perhatian saya langsung tertuju pada panel instrumen yang digunakan pada bus seri ini. Secara kasat mata, ternyata tidak banyak perbedaan yang berarti dari dengan seri pendahulunya, yakni seri Mercedes Benz OH-1526, yang bagi saya sudah sangat familiar. Panel intrumen dan lingkar kemudi sama persis dengan OH 1526. Mesin pun terlihat identik. Perbedaan baru terlihat pada ruang mesin, yakni penggunaan dua alternator untuk men-supply kebutuhan listrik. Namun di luar dugaan saya, ketika bus ini mulai melaju, ternyata OH-1626 memiliki sensasi berkendara dan tingkat kenyamanan yang berbeda. Kemampuannya dalam meredam guncangan ketika di jalan terasa lebih baik daripada Mercedes-Benz seri OH-1526 yang masih menggunakan suspensi daun (leaf-spring). Namun, saya rasa, kenyamanan yang dihasilkan juga tidak kalah jauh dengan kakaknya, seri OH-1830 dalam hal memberikan sensasi kenyamanan bagi penumpang.
Antusiasme peserta roadtest ketika berdiskusi tentang mesin bus
Bagi yang kurang peka, alias tidak memiliki sensitivitas yang tinggi soal kenyamanan, mungkin akan beranggapan bahwa sensasi kenyamanan yang ditawarkan antara OH-1626 dan OH-1830 adalah sama. Namun, bagi saya perbedaan sangat terasa ketika bus sedang melaju di medan jalan yang bergelombang dan berlubang. Seri OH-1830 memang meredam guncangan dan getaran dengan lebih baik daripada seri OH-01626. Namun saat jalanan mulus hampir terasa sama nyamannya, tidak ada perbedaan. Hal ini mungkin disebabkan perbedaan konstruksi pada dudukan air-bellow-nya, dimana OH-1626 letak dudukan balon udara berada tepat di bawah chassis, yakni di tengah, sedangkan OH-1830 terletak di pinggir atau pada bagian luar dari chassis. Hal ini tentunya akan membuat proses peredaman getaran semakin baik ketika di dalam kabin ketika bus melaju di kondisi jalan yang kurang bagus.
Setiap varian produk chassis memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Setelah saya mencari informasi kesana-kemari, terutama mengenai spesifikasi teknis OH-1626 dan OH-1830 dan harga jualnya, saya rasa perbedaan yang utama adalah disertakannya fitur retarder dan penggunaan disc-brake pada keempat titik roda OH-1830. Perbedaan lain juga terletak pada konstruksi rancang-bangun chassis dan dudukan balon udara. Perbedaan ini sangat jelas terlihat, walau kedua varian ini pun masih sama, tetapi baik keduanya tidak dilengkapi dengan pengatur ketinggian level balon udara.
@ RM. Taman Sari II, singgah sejenak makan siang
Pagi keesokan harinya, hari Sabtu (11/2), kami tiba di Jakarta, dan bus pun langsung menuju dealer resmi Mercedes-Benz Indonesia, PT. Adendanmas- Authorized Dealer yang berlokasi di Jalan Raya TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Bus singgah di tempat untuk dilakukan pengecekan sekaligus maintenance di beberapa bagian sebelum nantinya akan mengantar kepulangan kami menuju Kota Kudus.
Setelah seharian berada di sana, akhirnya tepat pukul 16.00 WIB kami kembali melakukan perjalanan pulang menuju pool PO. Nusantara, Kudus. Selama perjalanan pulang, kami sempatkan untuk singgah sejenak di RM. Taman Sari, Subang untuk sekadar mengisi perut. Selanjutnya, perjalanan pun kembali dilanjutkan. Sisa perjalanan kami isi dengan istirahat karena banyak dari kami yang sudah sangat lelah dan diserang rasa kantuk yang berat. Dan tiba kembali di pool hari Minggu (11/3) pukul 02.00 WIB dini hari.
Kesimpulannya, dengan hadirnya dua seri chassis bus Mercedes-Benz terbaru ini, diharapkan akan semakin meramaikan khasanah keragaman dunia transportasi. Awal tahun 2012, bisa dikatakan adalah babak baru bagi dunia pertransportasian di Indonesia, khususnya dunia transportasi bis. Hal ini ditandai dengan semakin ramai dan beragamnya pilihan mesin bus yang ada berikut teknologi serta sensasi kenyamanan yang ditawarkan. Semoga keberagaman ini akan terus mendukung tumbuhnya segmen penumpang yang selalu setia menggunakan moda transportasi bus. (naskah: inDra/ foto: istimewa)
Read More

Apple launches two iPhone ads to flaunt new features

The tech giant's new "Brilliant" and "Discover" ads hone in on apps that let users solve complicated math problems, dim a lamp, and tune a guitar.
Screenshot from Apple's new iPhone commercial.
(Credit: Screenshot by Dara Kerr/CNET)
Apple released a set of snazzy new iPhone commercials today dubbed "Brilliant" and "Discover" to show off various features and apps on the smartphone.

Choreographed to upbeat music -- the same as its recent iPad ads -- the commercials display the phone in a pair of hands that click, tap, and swipe through various games, apps, and videos.
"Brilliant" highlights how people can use the smartphone to pay for a Starbucks coffee with the Passbook app, use the scientific MyScript math calculator, and control the dimming of a lamp with the new Hue Lighting app. "Discover" focuses on Apple's maps app and also shows features like how users can tune a guitar with the smartphone and find new restaurants, music, and locations with numerous other apps. 

Read More

Senin, 04 Maret 2013

Peluncuran Chasis Terbaru PO. Harapan Jaya




 
Terima kasih atas kesetiaan pelanggan bus malam AKAP PO Harapan Jaya. Untuk lebih memanjakan penumpang, tahun 2013 ini PO Harapan Jaya akan menghadirkan 34 chasis baru dengan berbagai tipe yang akan digunakan untuk memperkuat armada AKAP PO Harapan Jaya, diantaranya:

* 25 unit Mercedes Benz OH 1626
* 6 unit Mercedes Benz OH 1836
* 3 unit Scania K360IB 4x2

Untuk kelas dan tujuan yang dilayani masih kami rahasiakan. Tunggu kejutan kami berikutnya
Siapa bilang Harapan Jaya kehilangan ciri khasnya sebagai trend setter? Siapa bilang Harapan Jaya sekarang lebih condong ke Mercedes Benz daripada Scania? Ini dia pernyataan resmi dari Direktur Utama PO Harapan Jaya

---

Tahun ini... Para pelanggan bus Harapan Jaya bakal sangat dimanjakan dengan adanya gelontoran puluhan sasis2 type2 terbaru dari mercy + scania... Bahkan tidak kalah pentingnya, prototype Mercedes Benz 1836 sudah masuk karoseri Tentrem Januari 2013 kemarin bekerjasama dg karoseri tentrem dengan melahirkan type bodi terbaru

Utk hino AK, sedang terus kami pelajari. Apabila sdh ada keputusan final dan sdh ttd kontrak, akan kami info lbh lanjut.

Kabar gembira ini, bisa seluas luasnya disebarkan ke rekan-rekan Harjay Mania.

Terima kasih
Manajemen PO Harapan Jaya 
Read More

Rabu, 27 Februari 2013

LG's 4K phone upscaling squeezes Ultra HD from your mobile, wirelessly (video)

The new upscaling system outputs a 4K feed to your TV, letting you play mobile games or watch films at an eye-watering high resolution, from your phone.
 
 
BARCELONA, Spain--LG is showing off a new smartphone system, that transforms your smartphone into a 4K media hub.
The South Korean company is calling the new platform the "world's first wireless Ultra HD transmission technology." If you've got a game or video playing on your mobile in HD, the new platform will upscale the feed to a 4K resolution, before beaming it out wirelessly to another device.
In this situation that second device was an LG 4K television, acting as a simple monitor for the 4K feed that the phone was pumping out.
We played with Epic Citadel, a graphically intensive tech demo that -- in this case -- was running on one of LG's Optimus G smartphones. The process of upscaling the feed to 4K is an intensive one, and the phone felt very warm when we touched it, but nevertheless the Optimus G's quad-core processor was handling the task with relative ease.
(Credit: Luke Westaway/CNET)
Games ran with a little judder, but as this technology is still months away from being released I'm prepared to withhold judgement for now. I was told the proprietary system would be cropping up in smartphones at the start of next year, or possibly the end of 2013.
It seems that tech companies want to control your living room by turning your smartphone into a portable media centre.
For me, the system demonstrates how powerful smartphone processors have become in just a few short years. If the Optimus G can handle it, I've no doubt that other mobiles emerging in the next year or two will be equally capable.
What do you think of 4K? Let me know in the comments below, and be sure to examine the rest of our coverage from Mobile World Congress.

Read More

Minggu, 24 Februari 2013

New Scania Touring – a new coach for the world

Scania Touring is an entirely new tourist coach from Scania, now being launched in a number of markets in Europe. A complete coach concept, built for Scania on a dedicated line in China.
The all-Scania powertrain comprises Euro 4 and Euro 5 engines from 380 up to 440 hp, a 12-speed gearbox, as well as a choice of fully automated or electronically controlled gearchangingThe all-Scania powertrain comprises Euro 4 and Euro 5 engines from 380 up to 440 hp, a 12-speed gearbox, as well as a choice of fully automated or electronically controlled gearchanging
October 2009 saw the launch of the new Scania Touring coach – designed to meet the needs of Scania customers for a complete coach with one single point of contact for all issues related to servicing and maintaining the chassis, bodywork and all other components.
“The coach is assembled on a dedicated Scania production line in China, enabling us to exert full control of all manufacturing and quality aspects,” says Melker Jernberg, Senior Vice President Buses and Coaches. “In addition, we can offer it to our customers at an attractive price.”

Strengthening the market position

In 2008, Scania was the second largest bus and coach make among European and Japanese manufacturers, behind Mercedes-Benz but ahead of both Volvo and MAN, including Neoplan. The new Scania Touring is the next step in the long-term strategy of Scania Buses and Coaches aiming to further strengthen the company’s market position.
“The foundation of the strategy of Scania Buses and Coaches is a global product family that is supported by all part of the Scania organisation, from factory to dealer,” says Melker Jernberg, Senior Vice President Scania Buses and Coaches. “For a customer who has chosen a vehicle from this global bus and coach family, there should never be any doubt that he has a Scania vehicle.
“This global bus and coach family represents everything that Scania stands for in terms of quality and design,” he adds.

A broad product range

In addition to the new Scania Touring coach, there are today also the Scania OmniCity and OmniLink city and suburban buses and the Scania OmniExpress coaches.
In some markets, this global bus and coach family is not enough, however. It must be supplemented with local solutions. This is why Scania works in cooperation with some 20 regional bus and coach bodybuilders.
The new Scania Touring has been extensively field tested in Dubai, Hong Kong and elsewhere. It has also been put through winter tests and exhaustive endurance testing on Scania’s proving grounds.
Initially Scania Touring will be sold in central and eastern Europe, where the interest in this type of coach has been the greatest. Additional European markets will follow, as well as markets in the East, Africa and Asia.
The driver station with its sweeping dashboard line has driver-friendly ergonomics.  Scania Touring is available with two interiors, Classic and the more luxurious Comfort (pictured here).
The front has typical Scania traits like the wedge-shape and rounded corners that reduce drag. LED lights are integrated into the design.  The tail wraps up all styling elements into a statement of quality and solidity.

Fuel efficiency and comfort

The new coach combines high fuel efficiency with low operating costs. It is equipped with the new fully-automated Scania Opticruise gearchanging system, which was first unveiled during the launch of Scania’s new R-series trucks in September 2009.
Since Scania Touring is part of the company’s global bus and coach family, Scania assumes full responsibility for the coach from factory to dealer, as well as for such services as financing, parts supply and access to its service network.
Text: Conny Hetting
Photos/Illustration: Carl Berge, Carl-Erik Andersson, Dan Boman, Stefan Almers
Illustration: Johan Nohr

Read More

Pemerintah Umumkan Operator 'Tercantik' Hari Ini


detail berita
Ilustrasi
JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan mengumumkan peringkat peserta seleksi untuk mendapatkan dua kanal tersisa di frekuensi 2.1GHz hari ini. Siapakah di antara PT Telekomunikasi Indonesia (Telkomsel) dan PT XL Axiata (XL) yang menempati posisi paling atas.

"Kominfo akan tetap mengumumkan peringkat peserta seleksi 3G pada Senin, 25 Februari," kata kepala Humas Kominfo Gatot S. Dewa Broto kepada Okezone melalui pesan singkat BlackBerry Messenger (BBM), Minggu (24/2/2013).

Seperti diketahui, tiga operator yaitu Telkomsel, XL, dan Indosat beradu cantik untuk memperoleh sisa kanal yang tersedia di frekuensi 2.1GHz. Sayangnya Indosat harus tersingkir pada tahap awal proses seleksi.

Berdasar Peraturan Menteri (PM) Kominfo No. 43/2012 dan Dokumen Seleksi, Telkomsel dan XL akan ditinjau berdasarkan dua aspek yakni administrasi dan kelayakan. Setelah menilai dari aspek tersebut, Kominfo akan menentukan peringkat dari kedua peserta seleksi 3G.

Peringkat ini nantinya akan memperlihatkan siapa yang lebih "cantik" dari kedua operator tersebut. Berdasarkan pasal 20 PM No. 43/2013 menerangkan tim seleksi akan menetapkan peringkat hasil seleksi berdasarkan dengan beberapa ketentuan, yaitu :

a. Urutan peringkat hasil seleksi berdasarkan penilaian tertinggi dari hasil evaluasi kelayakan;
b. Dalam hal terdapat jumlah penilaian yang sama, maka penetapan urutan peringkat dilihat dari nilai evaluasi teknis yang lebih tinggi;
c. Dalam hal penilaian evaluasi teknis sebagaimana dimaksud pada huruf (b) memiliki nilai sama, maka penetapan urutan peringkat dilihat dari evaluasi manajemen finansial yang lebih tinggi.
(amr)

Read More

Link Amikom

E-learning Amikom Research Amikom Wisuda Amikom PMB Amikom Kabar IT